Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong, Etika Kolektif Kebangkitan Ekonomi Pesisir
Kekuatan utama masyarakat pesisir bukan hanya laut, tetapi kemampuan mengubah solidaritas menjadi sistem. Ilustrasi/foto: aguraforestry.wordpress.com dan penulis.
Opini | hijaupopuler.id
Ada yang keliru dalam cara kita memandang masyarakat pesisir. Mereka terlalu sering dilabeli sebagai kelompok rentan, tertinggal, dan penerima bantuan—seolah identitasnya berhenti pada kemiskinan. Bahasa pembangunan terdengar mulia, tetapi kerap menyimpan kesombongan: negara hadir dengan program, lembaga dengan pelatihan, pasar dengan janji kesejahteraan, sementara masyarakat pesisir hanya diminta menyesuaikan diri tanpa kuasa menentukan arah ekonominya sendiri.
Akibatnya, pemberdayaan berubah menjadi ritual administratif. Laut tetap memberi nafkah, tetapi nelayan tetap rapuh. Pesisir tetap produktif, tetapi masyarakatnya tetap berada di pinggir kekuasaan ekonomi. Dalam situasi inilah filosofi Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong menjadi relevan—bukan sebagai nostalgia budaya, melainkan sebagai kritik mendasar atas kegagalan pembangunan pesisir.
Filosofi ini mengandung energi moral yang kuat. Padaidi Padaelo menegaskan kehendak kolektif; Sipatuo menghidupkan makna saling menghidupkan; dan Sipatokkong menegaskan saling menguatkan. Ketiganya menyatu dalam satu prinsip: masyarakat tidak dibangun oleh kompetisi brutal, tetapi oleh komitmen menjaga kehidupan bersama. Ini langsung menyentuh inti persoalan ekonomi: siapa bekerja, siapa menikmati hasil, dan siapa menanggung risiko.
Masalah utama pesisir bukan sekadar rendahnya pendapatan, tetapi rusaknya relasi ekonomi. Nelayan menghadapi risiko tinggi, tetapi harga ditentukan pihak lain. Perempuan pesisir menopang ekonomi rumah tangga, namun perannya kerap dipinggirkan. Pemuda terjepit antara bertahan atau migrasi menjadi tenaga murah. Selama masyarakat bekerja sendiri-sendiri, membeli mahal dan menjual murah, maka “pemberdayaan” hanya menjadi kemasan halus dari ketidakadilan struktural.
Karena itu, persoalan pesisir harus dibaca melalui tiga kerangka. Pertama, modal sosial: kekuatan pesisir terletak pada kepercayaan dan solidaritas. Kedua, ekonomi moral: aktivitas ekonomi selalu terkait keadilan dan kelayakan. Ketiga, ekonomi solidaritas: kesejahteraan harus dibangun melalui kelembagaan kolektif. Tanpa ini, pembangunan akan terus terjebak dalam logika teknokratis yang mengabaikan relasi kuasa.
Banyak kajian sudah menekankan pentingnya kearifan lokal, peran perempuan, dan koperasi. Namun, sebagian besar berhenti pada pengakuan normatif. Kearifan lokal dipuji, tetapi tidak dijadikan dasar untuk menata ulang struktur ekonomi. Ia menjadi slogan, bukan alat perjuangan.
Di sinilah filosofi Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong harus dibaca secara radikal. Ia adalah seruan membangun kedaulatan ekonomi berbasis kehendak kolektif. Kemiskinan pesisir bukan nasib, melainkan hasil sistem yang memecah komunitas. Nelayan, pengolah, dan pedagang dipisahkan; perempuan dipinggirkan; pemuda dijauhkan dari kepemilikan institusi. Filosofi ini menolak fragmentasi tersebut.
Karena itu, jalan keluar bukan memperbanyak program seremonial, tetapi membangun institusi kolektif. Koperasi nelayan harus menjadi alat perjuangan ekonomi, bukan formalitas. Pembiayaan mikro berbasis komunitas perlu diperkuat. Rantai distribusi harus dipendekkan agar nilai tambah tidak hilang di tangan perantara. Perempuan harus menjadi subjek utama ekonomi, dan pemuda menjadi motor inovasi serta digitalisasi pasar.
Pendekatan ini memang provokatif, tetapi diperlukan. Terlalu lama masyarakat pesisir ditenangkan dengan belas kasihan. Mereka dipuji, tetapi tidak diberi harga yang adil. Mereka dilibatkan, tetapi jarang diberi kuasa. Yang dibutuhkan bukan simpati, melainkan distribusi kuasa yang lebih adil.
Kekuatan utama masyarakat pesisir bukan hanya laut, tetapi kemampuan mengubah solidaritas menjadi sistem. Di situlah relevansi tajam filosofi Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong: kebangkitan ekonomi lahir dari keberanian untuk saling menegakkan, bukan saling mendahului. Jika ini dijadikan dasar, pesisir tidak lagi menjadi halaman belakang pembangunan, melainkan ruang lahirnya ekonomi bermartabat.
Jika tidak, maka seluruh wacana pemberdayaan hanyalah kata-kata sopan yang menutupi kenyataan pahit: mereka yang hidup dari laut masih dibiarkan berjuang sendirian.
Akhirnya, semoga nilai Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong menjadi jalan menuju Wanua Mappatuo Naewai Alena.
--
Ilham
Mahasiswa S3 UIN Palopo
Apa Reaksi Anda?

