Islam Profetik dan Etos Pengabdian di Instansi Keagamaan

Islam Profetik dan Etos Pengabdian di Instansi Keagamaan
Islam Profetik dan Etos Pengabdian di Instansi Keagamaan

Keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan individual, ia harus bergerak menuju kesalehan sosial dan kelembagaan. Ilustrasi/foto: public domain dan penulis.

Perspektif | hijaupopuler.id

Islam merupakan agama yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik dalam ranah individual, sosial maupun komunal. Ajarannya berkembang dalam kehidupan masyarakat dengan berlandaskan teks-teks keagamaan, baik sumber primer berupa Alquran dan hadis maupun sumber sekunder seperti fikih, tasawuf, teologi Islam dan berbagai khazanah keislaman lainnya.

Islam sebagai agama sekaligus peradaban tidak dapat dilepaskan dari dialektika antara wahyu dan realitas masyarakat Arab ketika Islam hadir. Pada masa itu, masyarakat Arab telah memiliki tradisi kebahasaan, keagamaan dan ritual yang berkembang. Kehadiran Islam kemudian membawa transformasi terhadap berbagai aspek kehidupan tersebut melalui nilai-nilai ketauhidan, kemanusiaan dan keadilan.

Kesadaran beragama dapat tumbuh secara natural melalui praktik kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, ia juga dapat dikembangkan secara struktural melalui lembaga-lembaga keagamaan maupun institusi pemerintahan yang memiliki kewenangan dalam urusan keagamaan.

Di lembaga keagamaan seperti pesantren, ajaran Islam tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter santri, baik selama berada di lingkungan pesantren maupun setelah menjadi alumni.

Sementara itu, instansi keagamaan yang berada dalam struktur pemerintahan memiliki karakter berbeda. Institusi semacam ini menjalankan fungsi pengaturan, fasilitasi dan pelayanan kepada masyarakat dalam berbagai persoalan keagamaan, mulai dari kehidupan keluarga, ibadah haji dan umrah hingga berbagai layanan keagamaan lainnya.

Dua konteks tersebut menunjukkan bahwa keberislaman dapat tumbuh melalui dua jalur sekaligus: natural dalam kehidupan masyarakat dan struktural melalui kelembagaan.

Islam ala Nabi Muhammad saw sebagai Role Model

Islam memberikan teladan konkret mengenai bagaimana ajaran agama diterapkan dalam kehidupan. Teladan utama tersebut tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad saw sebagai figur yang menjadi panutan umat Islam.

Keteladanan Nabi tidak hanya terlihat dalam hubungan antarsesama muslim, tetapi juga dalam cara beliau membangun relasi dengan pemeluk agama lain dan memperlakukan lingkungan sosial di sekitarnya. Karena itu, kehidupan beliau semestinya tidak berhenti sebagai pengetahuan sejarah, tetapi dihayati sebagai model kehidupan yang relevan untuk dipraktikkan.

Rasulullah saw mengajarkan pengabdian kepada Allah swt sekaligus kepedulian terhadap kehidupan manusia. Islam yang dibawa Nabi adalah Islam yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam ruang ibadah ritual, tetapi juga harus hadir dalam hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari.

Secara natural, seorang muslim menjalankan prinsip penghambaan kepada Allah swt melalui ibadah yang bersifat vertikal sekaligus horizontal. Pengabdian tidak berhenti pada pelaksanaan kewajiban ritual, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Dalam konteks struktural dan kelembagaan, semangat penghambaan tersebut dapat diwujudkan melalui pengabdian kepada lembaga yang menjadi ruang untuk menjalankan amanah agama dan pelayanan kepada masyarakat.

Pengabdian semacam ini sebenarnya merupakan bentuk ibadah yang relatif mudah dilakukan, tetapi sering kali kurang disadari. Pemahaman mengenai ibadah masih kerap didominasi oleh aktivitas ritual, sementara dimensi sosial dari pengabdian belum memperoleh perhatian yang proporsional.

Pengabdian sebagai Perilaku Profetik

Salah satu bentuk pengabdian yang dapat dilakukan setiap muslim adalah menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Inilah salah satu bentuk perilaku profetik yang telah dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Menyampaikan kebaikan tidak selalu membutuhkan kemampuan luar biasa maupun biaya besar. Pesan kebaikan dapat disampaikan melalui ucapan, tulisan, pelayanan, keteladanan maupun tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, persoalannya, tidak semua orang mampu mengambil peran tersebut. Ada yang merasa tidak memiliki kemampuan menyampaikan pesan, tidak memiliki pengetahuan yang cukup, atau merasa tidak memiliki materi yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Karena itu, perilaku profetik tidak semestinya dipahami hanya sebagai kemampuan berbicara mengenai agama. Lebih luas dari itu, perilaku profetik merupakan upaya menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata: menyampaikan kebaikan, memberikan pelayanan dengan tulus, menjaga keadilan, membantu sesama dan menghadirkan kemaslahatan.

Dalam konteks instansi keagamaan, nilai tersebut menjadi semakin penting. Pegawai dan pengelola lembaga keagamaan bukan hanya menjalankan pekerjaan administratif, tetapi juga memiliki ruang untuk menghadirkan wajah Islam melalui pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Pelayanan yang ramah, adil, transparan dan tidak diskriminatif pada hakikatnya merupakan bagian dari dakwah melalui tindakan. Masyarakat tidak selalu mengenal Islam melalui ceramah atau tulisan keagamaan. Dalam banyak keadaan, mereka justru mengenal nilai Islam melalui perilaku orang yang dianggap merepresentasikan institusi keagamaan.

Di sinilah Islam profetik menemukan relevansinya. Pengabdian kepada lembaga tidak cukup dimaknai sebagai kewajiban pekerjaan, tetapi juga sebagai amanah untuk menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam ruang pelayanan publik.

Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan individual. Ia harus bergerak menuju kesalehan sosial dan kelembagaan. Semangat keteladanan Nabi Muhammad saw perlu diterjemahkan dalam bentuk pelayanan, komunikasi, kepedulian dan pengabdian yang nyata.

Pada akhirnya, Islam profetik bukan sekadar gagasan tentang bagaimana menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga bagaimana menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Dalam lingkungan instansi keagamaan, semangat tersebut dapat menjadi fondasi moral agar setiap bentuk pekerjaan dipahami sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah swt sekaligus pelayanan kepada masyarakat.

---

Moh Muhtador
Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
muhtador@uinsuku.ac.id

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow