Strategi Devide et Impera dalam Dunia Politik

Gambaran sederhana dari strategi kuno yang dikenal sebagai "Devide et Impera" atau "Pecah Belah dan Kuasai".
Kolom | Hijaupopuler.id
Bayangkan sebuah pesta meriah, di mana semua orang sibuk bersenda gurau, tertawa, dan menikmati hidangan lezat. Tiba-tiba, seorang tamu misterius masuk dan mulai menyebarkan gosip halus, memisahkan sahabat karib, menciptakan keretakan di antara para tamu. Tanpa disadari, pesta yang awalnya hangat berubah menjadi ajang penuh ketegangan dan pertikaian. Inilah gambaran sederhana dari strategi kuno yang dikenal sebagai "Devide et Impera" atau "Pecah Belah dan Kuasai".
Strategi Devide et Impera memiliki akar sejarah yang panjang, berasal dari zaman Romawi Kuno. Kaisar dan jenderal Romawi menggunakan taktik ini untuk mengendalikan wilayah yang luas dengan cara memecah belah kekuatan lawan mereka. Dengan menaburkan perselisihan di antara kelompok-kelompok yang lebih kecil, penguasa dapat dengan mudah menaklukkan dan menguasai mereka satu per satu.
Namun, konsep ini tidak hanya berhenti di era Romawi. Devide et Impera terus berkembang dan bertransformasi, menyusup ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia politik modern. Filosofinya sederhana: dengan menciptakan perpecahan di antara kelompok yang lebih besar dan kuat, seorang penguasa atau pemimpin dapat memperkuat posisinya dan mengendalikan situasi.
Strategi Devide et Impera dalam Politik kontemporer, sering kali digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan memanipulasi opini publik. Contoh yang paling nyata adalah ketika partai politik atau individu tertentu menciptakan atau memperburuk perbedaan antara kelompok masyarakat, baik itu berdasarkan agama, ras, atau ideologi.
Politisi cerdas akan mengidentifikasi celah dalam tatanan sosial, kemudian mengeksploitasi perbedaan tersebut untuk keuntungan mereka. Dalam kampanye politik, kita sering melihat bagaimana isu-isu sensitif diangkat untuk memecah belah pemilih, menciptakan kelompok-kelompok yang saling bersaing. Dengan demikian, politisi tersebut dapat mengonsolidasikan dukungan dari kelompok yang lebih kecil namun loyal, sekaligus melemahkan oposisi yang lebih besar namun terfragmentasi.
Dampak Sosial dari Devide et Impera
Sementara strategi ini bisa efektif dalam jangka pendek, dampaknya bisa sangat merusak dalam jangka panjang. Ketegangan sosial yang ditimbulkan oleh taktik pecah belah dapat mengarah pada konflik yang lebih besar, bahkan kekerasan. Masyarakat yang terpecah belah sulit untuk bersatu dan bekerja sama demi kebaikan bersama, yang pada akhirnya merugikan seluruh bangsa.
Kita bisa melihat contoh nyata dari dampak negatif ini dalam berbagai konflik etnis dan politik di seluruh dunia. Ketika kepercayaan di antara kelompok-kelompok masyarakat terkikis, rasa saling pengertian dan kerjasama pun ikut tergerus, menciptakan lingkungan yang subur bagi kebencian dan prasangka. Maka untuk menghadapi strategi Devide et Impera, kita perlu meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang taktik ini. Edukasi dan dialog antar kelompok sangat penting untuk membangun kepercayaan dan solidaritas. Pemimpin politik yang bijaksana juga harus memainkan peran kunci dalam meredakan ketegangan dan mempromosikan persatuan.
Selain itu, media memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan narasi yang tidak hanya berfokus pada perbedaan, tetapi juga pada kesamaan dan tujuan bersama. Dengan cara ini, media dapat membantu mengurangi polarisasi dan mendorong masyarakat untuk bersatu.
Devide et Impera mungkin adalah strategi yang kuno, tetapi relevansinya dalam dunia politik modern tidak dapat disangkal. Sementara beberapa mungkin melihatnya sebagai alat yang efektif untuk mencapai kekuasaan, dampak negatif jangka panjangnya terhadap kohesi sosial dan stabilitas tidak boleh diabaikan. Hanya dengan memahami dan menghadapinya secara kolektif, kita bisa berharap untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
[Mi]
Apa Reaksi Anda?






